Sesegera aku menuju kamar mandi. aku mandi dan mengambil air wudhu, sesampainya di kamar aku pakai baju dan terus shalat sunnah. Selepas shalat aku berdoa dan sekejap air mataku menetes bersama iringan doaku, ternyata rinduku kepada wanita itu mencapai puncaknya. semua memori indahku bersama wanita itu terlintas dipikiranku, aku sungguh merindukannya.
Selepas berdoa, aku ambil alquran dimeja, kubuka daftar isinya untuk mencari halaman surat yasiin. surat yasin berada di halaman 441. dan aku bacakan yassin untuknya
kenangan akan hari hari bersamanya semakin kuat di ingatanku, dan memori 14 agustus 2009 juga datang bersamaan.
Kuputuskan untuk membuka laptopku dan membuka blog ini.
Kuraih rokokku di meja lalu kunyalakan dan ditemani lagu "ibu" karya hadad alwi. aku menulis blog ini, kulakukan untuk meluapkan rasa rinduku kepada wanita itu. wanita yang paling kusayangi, wanita yang selama 9 bulan membawaku kemana ia pergi, wanita yang selama 1 tahun 6 bulan menyusuiku, wanita yang merawat dan menjagku selama 17 tahun 2 bulan 12 hari. wanita yang meneteskan keringat dan air mata ketika aku hadir di bumi Allah ini. Wanita yang tersenyum ketika mendengar tangisan pertamaku. Wanita yang dalam sakitnya masih tetap memikirkan aku. Dialah wanita yang paling berarti dalam hidupku. Dialah wanita yang Allah panggil pada pukul 11.50 di hari jumat 15 agustus 2009. Dan dialah ibuku.
aku bingung mau mulai cerita ini dari mana.
Tapi aku coba mulai dengan menceritakan seperti apa wanita itu,
Namanya Nuraidah. dia lahir dikuok 14 juli 1958, anak ke 3 dari 4 bersaudara. Pada usia ke 6 tahun ia menjadi piatu sama seperti ku saat ini. Namun dia menjadi piatu berusia lebih muda dariku. Ketika berusia 13 tahun ayahnya menyusul ibunya menghadap sang khalik, dan dia menjadi anak yatim piatu.
Dia seorang wanita yang sangat cantik, berkulit putih dan berpostur pendek dan gemuk. namun walapun berpostur pendek dan gemuk, kecantikannya tidak tertutupi . Setiap melihatnya hati pasti tenang.
Dia adalah seorang guru yang mengajar di bidang bahasa indonesia. Pada 14 juli 1987, dia menikah dengan seorang pria sederhana namun pria yang mampuh membuat wanita ini jatuh hati. Katanya sih, dulu ibunya pernah berpesan kalau mau cari suami carilah suami yang sayang sama ibunya karena suami yang sayang sama ibunya pasti sayang sama istrinya. dan sifat itulah yang ada sama pria sederhana itu.
Pada tahun 1988 dia mengandung anak pertamanya, namun sayang Allah tidak mengizinkan dia untuk menjaganya, anak itu dipanggil sebelum anak itu lahir. dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1990 ia melahirkan anak keduanya. seorang anak perempuan yang menjadi buah cinta pertama dalam keluarga mereka dan dua tahun berselang wanita itu melahirkan anak bungsunya, tepat tanggal 3 juni 1992, ba'da zuhur.
Lengkaplah kehidupannya, bersama dua orang anak dan suami yang hanya seorang pegawai negeri biasa wanita itu membesarkan kedua anak mereka dalam kesederhanaan namun penuh dengan kasih sayang dan kebahagian. Lelaki sederhana yang juga ayahku pernah berakata "semua kecapean ayah luntur dek, kalau udah sampai dirumah. karena udah ngelihat wajah cantik ibu dan dua buah hati ayah".
Berapalah gaji seoarang guru dan pegawai negeri biasa, setiap sewa kontrakan naik wanita itu beserta keluarganya harus pindah mecari kontrakan lain yang lebih murah. namun mereka tidak pernah melupakan gizi buat kedua buah hati mereka, makanan terbaik yang kaya akan gizi selalu mereka berikan, walaupun makanan itu mahal dan satu lagi kehebatan mereka, pasangan ini senantiasa menabung sedikit demi sedikit dan pada tahun 2000 akhirnya mereka mampu membangun rumah dan kehidupan ekonomi mereka membaik. Serta pada tahun 2004 mereka menunaikan ibadah haji bersama.
Rumah yang mereka bangun itu penuh akan tawa dan canda serta air mata kebahagian ataupun kesedihan. setiap maghrib lelaki itu memimpin shalat dan dimakmumi oleh keluarganya. seiring dengan waktu kedua buah hati mereka sudah memasuki sekolah, aktivitas dirumah itu bertambah, sehabis shalat maghrib berjamaah, wanita itu mengajari kedua buah hatinya membaca alquan dan setelah selesai membaca alquran, mereka duduk dan bercerita tentang aktivitas hari itu, diselingi oleh canda dan tawa kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Itulah masa kecilku bersama lelaki dan wanita itu serta kakakku. lelaki sederhana itu adalah ayahku dan wanita itu adalah ibuku.
Seiring dengan waktu kehidupan ekonomi kami membaik, ayah sudah bukan pegawai negeri biasa lagi. karena ayah sudah mendapat jabatan dan ibu mengajar didua sekolah. dulu ibu tidak mau ngajar di dua sekolah karena dia mau menjaga dan merawat aku serta kakakku. dan setelah kami mulai masuk SMP ibu baru mau mengajar di dua sekolah.
Setelah tamat smp kakakku memasuki sekolah berasrama dan kemudian aku pun memasuki sekolah berasrama, walaupun sekolah kami berbeda. dan aktiviti malam bersama kami mulai berkurang, palingan dilakuin kalau kami berdua libur.
Tepatnya tahun 2007 aku melanjutkan sekolah ke tingkat SMA, dan waktuku kuhabiskan di asrama sehingga waktuku bersama mereka semakin berkurang. Pada tahun 2008 kakakku lulus di kedokteran. Ayah dan ibuku berencana mau pergi umbroh sekeluarga pada awal 2009.
Tapi Allah berkehendak lain, pada malam takbiran idul fitri ditahun 2008 ibuku jatuh sakit, namun pagi ittu ia masih mampu melakukan shalat ied, dan siapa sangka itu menjadi shalat ied bersama kami yang terakhir.
Pada hari ketiga lebaran, sakit ibu semakin parah dan akhirnya iya dibawa ke rumah sakit. sakit ibu itu aneh, seperti pasang surut ombak. kadang sakit kemudian baik lagi dan sakit lagi, selama sakitnya ibu sudah merasakan 3 rumah sakit.
Ternyata selama sakitnya kata kata dari almarhuma nenek semakin terbukti, bahwa laki laki yang sayang sama ibunya pasti sayang sama istrinya. selama sakitnya ibu tidak mampu berjalan, kemana mana ia harus mengguanakan kursi roda.
Lelaki sederhana itu selalu ada disisinya, senantiasa terjaga dan berada di sampingnya. Lelaki itu adalah lelaki luar biasa, sekalipun dia tidak pernah mengucapkan kata capek atau marah sama ibu dan senantiasa menjaga ibu. aku tahu lelaki yang saat itu sudah berumur empat puluh tahunan itu sudah tidak sekuat dia dimasa mudanya.
Sudah banyak air matanya yang mengalir ketika berdoa kepada Allah untuk kesembuhan belahan jiwanya, aku pernah doanya.
"ya Allah, dialah belahan jiwaku. wanita yang selalu tersenyum ketika aku pulang kerumah, wanita yang tidak pernah marah dan membentakku. wanita yang selalu menjadi cahaya dalam kegelepanku, wanita yang menjadi ibu dari kedua buah hatiku, wanita itu kini terbaring sakit ya Allah. aku dan anak anakku masih membutuhkannya ya Allah. aku sayang dia ya Allah. sembuhkanlah dia ya Allah"
Setelah kalimat terakhir dari doanya, ayahku menangis di sejadahnya, dan aku bersama kakakku datang memeluk ayahku dan kami menangis bersama. ternyata tangisan kami membangunkan ibuku, dari luar kami mendengar suara tangisan.
Ternyata ibuku menangis, kami beregegas keluar. Ayah melihat ibu menangis segera mendekati ibu, dan memijatnya dan ibuku berkata.
"ayah, ibu minta maaf y yah. ibu udah menyusahkan ayah. ibu nggak sakit do yah. adek sama kakak jangan nangis juga ya. ibu ndak sakit do nak. janganlah nangis ya."
itulah wanita yang paling berarti dalam hidupku, dalam sakitnya iya selalu ingin terlihat baik dan tidak mau menyusahkan suami dan anaknya. wanita itu adalah ibuku.
Waktu itu pernah suatu kejadian aku pulang dari asrama, seperti biasa aku pulang dengan membawa setumpuk kain kotor. Aku segera ke dapur meletakkanya di dalam ember dan merendamnya karena sebentar lagi tukang cuci yang biasanya mencuci baju keluargaku akan datang. dan setelah selesai aku duduk dan menonton tv. tiba tiba aku dengar suara tangis ibuku, aku segera mendatanginya.
"adek, ibu minta maaf ya" dan dia kembali menangis, aku mengerti kenapa dia minta maaf dan menangis karena biasanya apa yang kulakukan tadi dilakukan olehnya. akupun menangis memeluk dan mencium keningnya.
selama ibu sakit, rumahku selalu penuh dengan tangis dan air mata
Sampai akhirnya, malam itu setelah pulang bimbel aku ingin menelfon ibu di wartel asrama. namun karena ramai aku urungkan niatku dan berencana menelfonnya malam besok, namun siapa sangka, jam 1 pagi itu, kakak sepupuku datang dan menjemputku.
Kontan aku kaget dan bertanya kenapa dia menjemputku tengah malam, namun dia hanya berkata kalau ibu rindu kepadaku dan menyuruhku pulang. dan di mobil menuju pulang aku disuruh tidur, namun mataku tidak mau dibawa tidur karena segan kepadanya aku pura pura tidur.
Di mobil kakak sepupuku menelfon oomku yang kebetulan tinggal berdekatan dengan rumahku. dan ia bertanya kepadanya hasil dokter yang memeriksa ibuku. dan oomku bilang kalau sejak dari rumah ibuku sudah meninggal.
Dengar kata ibuku sudah meninggal, air mataku sudah tidak tertahan. sesampainya di rumah, ternyata di rumah sudah banyak keluargaku yang berkumpul. kakiku semakin tidak mampu berdiri. masuk kedalam rumah ibuku sudah tidak bernyawa, tidur dan dikelilingi keluargaku yang sedang membaca yasin. aku sungguh tidak mampu berdiri lagi, tubuhku rebah disamping jasadnya.
Aku menangis sejadi jadinya, memeluknya, aku sungguh menyesal tidak menelfonnya malam itu, untuk mendengar suaranya buat yang terakhir kalinya. aku memeluk kakakku dan menangis bersama. malam itu ayah tidak dirumah, karena ayah berada di padang untuk menghadiri wisuda abang sepupuku.
aku merasa sangat kehilangan, sekitar pukul delapan ayahku datang, dan segera memeluk aku dan kakakku. ayahku menangis sejadi jadinya begitu juga aku dan kakakku. hari itu kami kehilangan wanita terbaik kami, wanita yang senyumannya mampu mendamaikan hati kami.
Ayah marah sama dirinya sendiri, karena sebenarnya dia tidak ingin kepadang untuk menghadiri wisuda itu, tapi ibuku menyuruhnya. dan saat nyawa ibu berpisah dengan jasadnya, ibu hanya ditemani oleh kakakku dan pembantu dirumah.
Pagi 15 agustus 2009, kami menyelangarakan jenazahnya, aku dan ayah ikut memandikan dan mengafankan ibu.
Dulu semasa aku masih SD, aku pernah bilang kalau misalnya ayah atau ibu meninggal aku akan menjadi imam yang menshalatkannya dan saat itu ibu tersenyum bangga. Mungkin karena anak laki laki satunya mau menjadi imam saat jenazahnya dishalatkan. dan hari itu aku menunaikan janjiku kepadanya, aku menjadi imam untuk ibuku tersayang.
Aku bersama ayah memasukkan ibu ke lahatnya, tempat peristirahatannya yang terakhir. dan ketika kubur sudah ditutupi oleh tanah. kami berdoa, dan ketika doa dipanjatkan mengiri ibu, ayah menangis lalu jatuh pingsan. kontan aku menangis sejadi jadinya, karena aku tidak mau kehilangan ayah juga.
Namun syukur ayah tidak apa apa, ia hanya terlalu sedih kehilangan ibu, malam itu kami baca yasin dirumah bersama para tetangga selama 3 hari berturut turut.ibu meninggal beberapa hari sebelum puasa, dan setiap pagi kami mengunjungi makamnya,
Puasa hari pertama di tahun 2009 adalah puasa terberta buat kami, karena itu puasa pertama tanpa ibu, sahur dan berbuka kami makan didampingi oleh air mata.
Kini sudah hampir memasuki tiga tahun kepergiannya, namun rasa kehilangan yang ada dalam hati kami belum juga hilang malah semakin bertambah begitu pula dengan rasa cinta dan rindu kami kepadanya. ibu adalah sosok wanita yang tidak pernah tergantikan di hati kami.
Kini ayah sudah menikah lagi, tapi aku dan kakak ikhlas dan aku yakin ibu juga ikhlas. sebagai seorang lelaki aku tahu dan sadar ayah butuh pendamping dan aku yakin ibu juga berpikir seperti itu. aku juga yakin dari dalam hati ayah yang paling dalam cintanya kepada ibu tidak pernah pudar dan hilang. karena di dompetnya selalu ada foto kami. foto aku, kakakku dan almarhuma ibuku.
Sekarang aku adalah anak piatu, aku dan ibuku dipisahkan oleh dunia yang berbeda. aku yakin ibu selalu melihatku dan tersenyum kalau nanti aku sukses. dan kalau aku menikah nanti aku yakin ibuku juga akan bahagia melihat menantu dan cucu cucunya.
Begitu beruntungnya mereka yang masih memlilki ibu, dan tujuanku menulis post di blog ini tidak lain hanya luapan kerinduanku kepada ibuku dan aku berharap ini bisa menjadi peringatan buat mereka yang masih memiliki ayah dan ibu yang lengkap.
Janganlah pernah sesekali marah ataupun benci kepada ibu dan ayahmu karena tanpa mereka kamu tidak akan pernah hadir di dunia ini. sayangi dan berbaktilah kepada mereka selagi mereka masih berada bersama kita. karena ketika mereka sudah dipanggil oleh Allah kita baru sadar kalau kita sangat kehilangan mereka, yang bisa kita lakukanya hanya berdoa dan menangis bila rindu kepadanya. kita tidak bisa lagi memeluk dan menciumnya, yang bisa kita lakukan hanya melihat foto ataupun videonya itupun kalau ada.
Sekali lagi ingin aku katakan, sayangilah ayah dan ibumu karena mereka lebih berharga dari intan dan emas.
buat ibuku disana, adek cuma mau bilang adek sayang dan rindu sama ibu. ridhoi dan doakan adek terus bu, karena tanpa ridho dan doamu adek tidak mampu hidup di dunia ini.
-sedikit aku sertakan foto foto ibuku-
| ibu dan ayah |
![]() | ||||||
| ayah dan ibu |







